Tuesday, September 10, 2013

Rindu Setiap Selasa

Hari selasa adalah harinya memutar beberapa lagu yang memang hanya diperbolehkan diputar pada hari selasa
Membuat hari selasa menjadi hari yang selalu dinanti, ditunggu dan diharapkan kedatangannya secara terburu-buru
Selasa bukan lagi hari yang biasa
Selasa kini jadi hari istimewa

Apakah aku perlu memperlakukan hal yang sama pada hari yang berbeda?
Agar aku selalu merindu pada hari-hari selain hari ini, ya hari selasa.. Hari selasa yang sebelumnya biasa saja

Wednesday, September 4, 2013

Memaklumi Masa Kini

Mendaki tak sampai ke puncak
Mengarung tak sampai ke seberang

Ambil seperiuk nasi, bersisa, kekenyangan lalu dibuang

Poles gincu merata satu senti
Jangan lupa tebar senyum sana-sini
Demi kemilau dan gemilang, apa yang diminta pasti akan diberi

Sunday, September 1, 2013

Esensi Cari Uang

Menunggu (kadang tidak) dengan sabar waktu gajian
Uang yang masuk rekening langsung digunakan untuk bayar tagihan
Beberapa disisihkan untuk masuk ke pos tabungan
Sisa recehan dimanfaatkan untuk memenuhi beragam kebutuhan

Awal bulan kencangkan ikat pinggang
Menghitung dengan seksama pengeluaran agar tengah bulan masih bisa jalan melenggang
Akhir bulan menghadiahi diri sendiri dan keluarga dengan sisa nominal yang ada
Tidak khawatir karena beberapa saat lagi hasil bekerja sebulan penuh sudah siap menyapa

Capedeh, begitu terus berulang...
Tapi bersyukur karena setiap hari masih pegang uang
Eh, tapi bolehlah yah sekali-sekali berharap keajaiban
Dapat uang semilyar dollar hasil dari menang undian

Friday, July 26, 2013

Salutasi Sore

Wulan, seharusnya silakan atau silahkan?
Wulan, seharusnya Si Kecil atau si Kecil?
Wulan, seharusnya makeup atau make up?

Serta masih banyak Wulan seharusnya-Wulan seharusnya lain yang aku yakin pasti yang nanya udah tahu apa jawabannya.

Kalau yang ditanya dengan paniknya nanya " Hah! Salah ya? " 
nanti yang nanya jawab dengan tenangnya " Engga, cuma mau memastikan aja kok."

Keahlian kaya gini sebenernya sederhana ya, tapi nyatanya nggak semua orang nyadar kalau ini tuh penting.
Selain itu, nggak semua orang juga punya keahlian macem ini.

Macem apa?
Ya macem itu tadi, kelihaian kita mengingatkan kesalahan seseorang dengan cara sangat halus jadi tidak akan menyinggung perasaan orang lain, yang ada malah bikin orang yang diingetin jadi selalu nginget-nginget kesalahannya supaya besok nggak salah lagi.

Makin ke sini aku jadi makin sadar kalau hal kecil bisa berarti banyak untuk orang lain.
Makin ke sini aku jadi makin sadar kalau orang yang dulu duduk di sebelahku dan nggak jarang nanya "Wulan seharusnya.." mengajarkan banyak hal sederhana yang kaya manfaatnya.
Makin ke sini aku jadi makin sadar kalau aku masuk dalam jajaran orang-orang yang beruntung karena mengenalnya (hazeg!).

Hari ini orangnya ulang tahun, hehe. Selamat ulang tahun deh ya!

Wednesday, July 24, 2013

Demi Apa?

Supaya pinter sama supaya dibilang pinter tu bedanya kaya langit dan bumi yah, walaupun secara kasat mata pembedanya cuma kata "dibilang".

Satu hal yang gatel banget pengen aku beberin tu prosesnya. Iyo, prosesnya. Proses menuju pinter sama proses biar dibilang pinter. Proses-proses ini loh yang bikin gemes mengarah ke emosi.

Kaya gini nih misalnya:

Ada orang baca buku karena emang dia suka. Baca karena dia menemukan sensasi istimewa waktu plastik dibuka dan aroma tiap-tiap halaman buku menguar di udara. Baca karena nggak tau mau ngapain lagi kalau nggak ada kerjaan kecuali ya baca buku karena udah jadi kebiasaan. Baca karena kalau nggak baca bisa nggak bisa (hayah!) garap soal ujian. Baca karena haus pengetahuan baru. Baca karena nggak bisa tidur kalau belum melakukan ritual baca sesuatu. Baca karena kalau nggak terus-terusan baca jadi gampang lupa. Baca karena dibayar harus baca. *dst.

Ada juga orang yang baca cuma karena

Eh, mana ada ya baca kok cuma. Apapun alasannya kalau ujung-ujungnya bisa bikin seseorang baca kan bagus ya?

Kok aku begitu banget ya tadi mikirnya. Ckckck...
Maaf ya rekan-rekan sejawat.

*postingannya mau dihapus tapi kok sayang. hehe*

Tuesday, July 16, 2013

Malu

Banyak hal yang bikin orang merasa malu.
Malu bisa jadi salah satu indikator kewarasan seseorang dan penerimaan kewajaran kewajaran lingkungan sosial terhadap suatu hal.

Masalahnya ngukur kadar malu tuh susah-susah-gampang.
Kalau levelnya ketinggian bikin kita nggak berkembang.
Kalau porsinya terlalu sedikit bikin kita ngga bisa kemana-mana (karena nggak ada yang mau nerima).

Pada akhirnya, semuanya harus pas sengepas ngepasnya.

"Jangan malu-maluin" bisa jadi sebuah kalimat yang begitu mengancam.
Mengancam rasa percaya diri dan harga diri.

Nah lo!

Sunday, July 14, 2013

Kece? Apa Itu Kece?

Begitulah kira-kira cara ngeles manusia yang ga kece di tengah lalu lalang manusia-manusia kece.

Pola pikirnya jadi sok-sok resisten sama definisi kece yang sebenernya sangat subjektif.

Itu baru tahapan pertama. Nanti di lapisan kedua akan ada gumaman "yang penting tu dalemnya, bukan tampak luarnya" di kepala.

Kata "dalem" di sini bisa merujuk pada tingkat intelegensia, ketulusan hati, isi dompet, ukuran cup penyangga dada dan variabel-variabel lain yang sangat fleksibel.

Pada dasarnya ketika tidak ada pilihan lain, termarjinalkan karena apa yang disebut kece itu tadi, manusia tak kece pasti akan menemukan seribu satu pembenaran yang sifatnya normatif.

Hehe, ketauan banget nih nulisnya sembari digelayuti perasaan tak pede ditengah lautan kaum kece.

Friday, July 12, 2013

Nggak Enak? Kasih Kucing!

Lah, kesian amat kucing dapetnya selalu bagian yang enggak enak.
Jangan begitu-begitu amat ah jadi orang, apa-apa mau enaknya doang.
Jangan manja tapi juga jangan semena-mena.
Jangan sesukanya tapi juga jangan mau-mau aja disuruh begini-begitu kesini-kesitu.

Emang paling gampang sih yah menasehati sambil ongkang-ongkang kaki.

Yagitudeh.

Pseudo Friend(s)

Bahasa jawanya konco palsu!
Iya, yang model begitu cukup banyak  di sini (kalau nggak mau denger aku ngomong buanyak buanget).
Iya, di sini. Di sekeliling kita, bahkan di depan muka kita.
Pilihannya ada tiga.
Pertama, acuh tak acuh (macem pelajaran PPKn).
Kedua, ikutan pasang fake smile dan panggil haney-babey meski nama tengah doi siapa aja kita lupa.
Ketiga, semprot langsung kelakuannya!

Tuesday, July 2, 2013

Coba Jawab Ini

Kenapa "kamu lagi apa" bisa begitu sangat tendensius?
Kenapa ada orang-orang yang merasa terancam ketika mendengar pertanyaan itu ditujukan kepadanya?

Belum waktunya kamu jatuh cinta.
Sudah bukan waktunya lagi kamu jatuh cinta.
Lalu kapan sebenarnya masa yang tepat untuk jatuh cinta?



Wednesday, May 8, 2013

Penebar Jala Janji

Tukang berjanji tingkat jawara
Ucap janji tak ingat kata
Janji yang sama diulang selalu
Mengembalikan perih sisa janji yang lalu
Perjanjian yang melelahkan
Berjanji akan hal yang terlupakan
Namanya juga janji
Diucap semudah berkata "aku janji"

Serba Salah Bikin Susah

Mau produktif kok malah lebih mengarah ke ngoyo
Agak kaleman dikit merasa tak bisa apa-apa

Mau produktif tapi sudah terlalu banyak hal yang harus diperhatikan
Agak kaleman dikit takut kalah cepat berkembang

Mau produktif ujung-ujungnya bikin sering sakit kepala dalam arti yang sesungguhnya
Agak kaleman dikit makin merasa tak punya kemampuan apa-apa

Mau produktif harus dibayar dengan menjarakkan anak dalam ikatan
Agak kaleman dikit rasa-rasanya makin banyak hal yang menjadi ancaman

Ahelah!

Monday, April 15, 2013

Sibuk

Kesibukan kadang baik untukku
Paling tidak waktuku habis untuk sesuatu yang memang penting dan perlu
Tidak ada tempat untuk kecemasan, keraguan dan ketidakberdayaan
Tak ada ruang untuk ketakutan tak terbataskan, kecemburuan tak beralasan dan kesakithatian yang tak terhentikan

Meskipun...

Kesibukan ini kadang membuatku tenggelam
Sesekali meredupkan sinyal seorang ibu pada diriku
Menggerus kepedulian terhadap pasangan dan lingkungan sekitar
Mengaburkan kepercayaanku pada Tuhan

Semua begitu...

Banyak baiknya, tak sedikit jahatnya
Pun dengan apa yang kusebut sebagai kesibukan

Tuesday, April 2, 2013

Bimbang dalam Menimbang Pertimbangan

Mungkin lebih tepat dikatakan penakut sih daripada penimbang ulung.

Toh kalau boleh jujur yang membuat segala pertimbanganku atas segala sesuatu sebenarnya didasari oleh rasa takut.

Yak! Ketakutan inilah yang kadang bisa membuatku menjadi waspada, namun juga tak sekali membuatku tidak berkembang.

Ya.. ya.. ya..
Masih begini (-begini aja) di sini (lagi-sini lagi).
Ya gimana, berani terima tantangan tanpa terlalu banyak menimbang-nimbang pertimbangan?
*ngomong sendiri*

Friday, March 29, 2013

Hujan dan Mengingatmu

Aku berada di kota dimana kita pertama jumpa.
Petang ini hujan dan aku duduk sambil mendengarkan lagu lama.
Memutar kenangan yang sudah berdebu di ingatan.

Sepotong senja, lagu yang sama, kenangan lama. Semua tentang orang yang pernah menyakitiku, menyayangiku, melindungiku dan kini menjadi suamiku.

Wednesday, March 27, 2013

menyapa diary dengan penuh basa basi

aku hampir saja melewatkan hari ini tanpa menulis di sini.
tapi kalau ikrar yang dibangun oleh diri sendiri saja tak mampu dijalani apa kata dunia nanti (ternagabonar).

tapi sungguh tak bisa dipaksakan.
hari ini aku sungguh lelah dan merasa lemah.

kita lanjutkan saja esok hari.

Tuesday, March 26, 2013

i do love my job. do you?

Jangan pernah lah ya mengecilkan peran sekecil apapun dari pekerjaan seseorang.

Walaupun sesederhana bilang " elah, kamu kan cuma ngerjain gitu doang".

Gitu doang gundulmu!
Emangnya kalo yang menurutmu pekerjan gituan doang bisa gitu kamu kerjain?

Kadang suka sedih denger orang lain yang merasa pekerjaan dia itu lebih super.
Super keren, super sibuk, super asyik, super susah dan super-super lain.
Ujung-ujungnya mengecilkan peran orang lain.

Pwuih!

Aku cinta pekerjaanku.
Aku menganggap pekerjaanku istimewa.
Tentu saja seistimewa pekerjaanmu, pekerjaannya dan pekerjaan mereka.

Tapi ga perlu lah ya menganggap pekerjaan yang kita cintai ini pekerjaan yang paling terberkati di seluruh negeri.
Sampai-sampai melihat pekerjaan lain menjadi pekerjaan yang gitu doang.
Sekali lagi deh, gitu doang gundulmu!

Monday, March 25, 2013

Rekan (tidak selalu) Sama dengan Kawan

Aku agak, kalau gak mau denger aku ngomong sangat, heran dengan orang-orang yang menganggap rekan kerjanya hanyalah sebatas rekan kala bekerja. Bukan teman bekerja, apalagi teman tanpa embel-embel kerja.

Emangnya nyaman ya bekerja tidak dengan teman?
Padahal waktu yang dihabiskan bersama bisa nyaris seharian.

Tanya kabar tak lebih dari basa-basi.Ya seperti sebagaimana rumus baku basa-basi berlaku, pasti basilah.
Jangankan mengharap empati. Bersimpati saja kadang datangnya tak dari hati.
Senyum semanis madu sudah barang tentu mode default yang dipasang jika ada suatu kepentingan.

Sungguh terlalu...

Semoga rekan yang juga teman di tempat bekerjaku tidak begitu.
Kalau yang sudah terjangkit perilaku seperti itu yah semoga tidak menular kepada yang lain. Syukur-syukur kalau bisa berkawan atas dasar hati yang rela (udah kaya PPKn belom?). Eymin.

Sunday, March 24, 2013

Short Hair is My Mid Name

Beneran deh!
Dari bayi sampe udah punya bayi aku selalu berambut pendek.
Waktu SMA pernah agak panjang rambutnya, sebahu lewat dikit. Itu gara-gara masih labil jadi ikutan trend rambut panjang poni lempar. Jadi cheerleader (yes, waktu itu aku anak cheers. yang bagian dilempar-lempar itu tuuh... )juga bikin punya rambut agak panjang dikit itu sedikit wajib karena harus seragam dikuncir-kuncir. Hal paling positif dari rambut model itu adalah dibilang mirip Cathy Sharon (mihihi). Tapi hal negatifnya, rambutnya rontok dan muka jauh keliatan lebih kuyu dan kurus.
Waktu mau nikah juga sempet manjangin rambut. Ya lagi-lagi juga cuma sebahu sih, tapi tetep itu kan terhitung prestasi (iyain ajalah ya). Abis nikah langsung dibondol lagi. Syumuk!
Kalau liat-liat foto juga kayaknya aku bagusan rambut pendek ya?
Apa mungkin karena lebih nyaman jadi juga lebih pede?
Kalau pede kita juga jadi keliatan lebih cakep bukan?
Hmm, lebih penasaran ngriting rambut sih daripada manjangin rambut.

Saturday, March 23, 2013

Fashion for Statement

Sudah bisa dipastikan aku adalah orang yang jauh dari kata fashionable (walaupun sudah berusaha). Satu dua orang memang kerap memberikan pujian untuk cara berpakaianku yang (katanya) unik. Walaupun bukan itu tujuanku.

Untuk aku, fashion item yang kita pilih untuk kita gunakan adalah bagaimana kita ingin merepresentasikan diri kita. Itu mungkin sebabnya aku seringkali tidak terlalu peduli akan komentar orang di sekitarku atas pilihan-pilihan penampilan yang kukenakan. Kalau aku terlalu memusingkan apa kata orang, berarti apa yang aku kenakan bukan citra diriku yang sesungguhnya.

Aku mematutkan penampilan bukan untuk memanjakan matamu, mata kalian. Aku sibuk berdandan untuk kepentingan diriku sendiri. Memuaskan mata dan jiwaku sendiri. Aku terlalu egois untuk diajari dan dikomentari tentang penampilan. Aku akan mendengarkan, tapi selebihnya aku tak akan pedulikan.

Fashion adalah satu hal yang terlalu mengasyikan untuk dipatuhi dan dituruti. Selera fashionku tak sama denganmu, tak lebih bagus darimu. Tapi itulah diriku yang sejujurnya.

My style is depend on my mood. My taste of fashion maybe for you is horrible. But i do love it.

Friday, March 22, 2013

Kotak Kaca

Kepindahanku ke kota ini rupanya harus dibayar (salah satunya) dengan kehidupan di dalam kotak kaca.

Iya, kotak kaca.
Ada 2 kotak kaca.
Kotak kaca yang sangat besar dan kotak kaca yang sangat kecil.

Si kotak kaca besar mengakibatkan kebosanan. Si kotak kaca kecil mengakibatkan ketidakpedulian. Keduanya mengakibatkan kematian. Kematian akan rasa dan asa.

Aku masuk ke kotak kaca besar dengan semangat suka rela. Atas azaz kebutuhan. Sebagian besar hal yang menyenangkan kutepiskan, demi bisa menghabiskan waktu dikurung dalam kotak yang luar biasa besar ini. Hanya ada satu jendela di dalamnya. Tepat di kedua mataku. Aku bisa melanglang buana dari sana. Ya, hanya aku. Bukan kami, apalagi kita.

Berbeda dengan kotak kaca kecil, aku masuk di dalamnya tanpa terasa. Beberapa waktu yang lalu kotak ini tak sekecil kini. Tapi sekarang semuanya merapat, membuatku mau tak mau hanya bisa meninggalkan diriku seorang diri saja di dalamnya. Memaksaku untuk menutup telinga, dan memejamkan mata. Karena mereka pun melakukan hal yang sama.

Kedua kotak kaca merengkuhku. Memaksaku tak beranjak, membuatku tak bergerak.

Dramatisasi 22

22 Maret adalah pertama kali aku turut serta mendramatisir datangnya tanggal 22.
Ini semua gara-gara ada promo Starbucks diskon 50% kalau kita beli pakai tumblrnya.
Bulan kemarin aku ga peduli, bulan kemarinnya lagi aku tak tahu apa-apa.
Entah kenapa bulan ini aku maksain minjem tumblrnya Achi buat ikutan beli.

Kenapa oh kenapa?

Ga tau sih..

Setiap jumat Asti and the gank punya kebiasaan Comebuy day. 
Tapi aku juga ga bergeming padahal harganya cuma Rp 20.000
Sampai akhirnya Buluk nanyain, " Kok Ma ga ikutan sih? Gapapa kan kasih hadiah untuk diri sendiri".
Hmmm.... iya juga yah...

Mungkin itu alasannya aku ikutan drama 22.
Kasih apresiasi untuk diri sendiri.
Toh diskon 50% juga ini, hehe.

Thursday, March 21, 2013

Memutar Waktu Lewat Lagu

Ada beberapa lagu yang menyimpan rindu*
Ada beberapa lagu yang mengusik rasa benci**
Ada beberapa lagu yang mengungkap penyesalan***
Ada beberapa lagu yang menyingkap kehampaan ****
Ada beberapa lagu yang mengulik kembali senyum dan tawa*****

Ini beberapa yang tersebut di atas:

* pulang - float (Lagu yang terus kau putar ulang saat kita pergi ke pantai)
** linger - the cranberies (Lagu yang selalu menemani saat aku mengurut urat sabar melihat ketidaksetiaanmu)
*** communication - the cardigan (Lagu yang kuputar saat menangisi kebodohanku berpikir bisa mempercayaimu)
**** we're all in the dance - Feist (Lagu yang membuatku merasa sangat kesepian. Karena aku marah, karena aku kecewa dan karena aku tau aku menginginkanmu)
***** Balada Joni dan Susi - Melancholic Bitch (Lagu ini saksi aku menaklukanmu, haha!)

Okay, aku akui aku sungguh le to the bay!

Penulis Alpa Menulis

Penulis kok menulis kalau diminta
Penulis kok lupa meletakkan tanda baca tepat di tempatnya
Penulis kok urung membaca
Penulis kok selalu menutup mata pada fenomena

Penulis kok malas mendokumentasikan segala rupa kenangan, cita, rasa dan yang lainnya dalam bentuk kata

Penulis macam apa itu?


*nangis di pojokan*