Ini pertanyaan yang aku ajukan beberapa tahun yang lalu pada diriku sendiri.
Sampai akhirnya aku menantang pertanyaan ini dengan sebuah pernyataan: mari kita coba!
Lalu aku memutuskan untuk bekerja di ibukota, memboyong keluarga kecilku yang sudah sangat nyaman bersarang di kota budaya. Kebetulan memang ada tawaran yang cukup menjanjikan untuk masa depan yang lebih gemilang, di sana.
Harus aku akui, sedikit banyak aku mengagumi etos hidup orang-orang yang sudah lama tinggal di Jakarta.
Renungan-renungan kecil sering aku lakukan, terutama ketika aku terjebak kemacetan di jalan.
Bayangkan, aku pernah pulang dari kantor jam 6 sampai rumah jam 10 malam. Empat jam di jalan!
Belum lagi di kota ini, hujan sebentar saja bisa berujung banjir berhari-hari. Hujan 5 menit bisa berarti macet 5 jam. Satu dua hal ini hanyalah salah satu contoh dari banyak contoh tantangan yang dihadapi sehari-hari oleh orang yang tinggal di Jakarta.
Dari dulu, banyak komentar-komentar nylekit tentang kota yang kekejamannya dibilang lebih kejam dari ibu tiri ini. Semua bernada nyinyir, tentu saja.
Dari mulai kerja di Jakarta itu sia-sia, karena waktumu hanya dihabiskan di jalan semata.
Lalu umpatan harian tentang kemacetan, dilanjutkan makian terhadap cara masyarakat kelas menengah di Jakarta menghabiskan uangnya. Dan masih banyak lagi kecacatan Jakarta yang dijabarkan hampir setiap hari, di mana-mana, oleh orang-orang yang berdatangan ke kota ini untuk mencari rejeki.
Maksudku, siapa sih yang memaksa kita untuk datang ke kota ini? Apakah si Jakarta itu sendiri?
Kalau alasannya karena semuanya ada di Jakarta, kenapa tak putar otak di kota kita sendiri.
Aku tahu diri. Tahu diri kalau aku hanya menumpang di kota ini.
Aku membayangkan, ketika ada yang menumpang di kota asalku, lalu mereka mencaci kotaku padahal disanalah mereka mencari uang, aku pasti sangat marah dan menyuruh mereka pulang!
Kenapa kamu tidak?
Kenapa kamu asyik berkata bahwa kota ini sampah seolah lupa kota sampah ini adalah tempat kamu mencari nafkah?
Jujur saja, lama-lama aku jatuh cinta pada Jakarta. Lama-lama penyataan-pernyataan sinis itu mengganggu juga.
No comments:
Post a Comment