Yea, ada 3 hal yang melintas di kepala waktu liat tantangan ini di media sosial: nggak penting, serem juga kasih tau tentang kita ke orang lain dan eh lucu juga!
Ternyata yang menang adalah yang terakhir. Jadilah keisengan ini dituliskan di sini:
1. Hampir nggak pernah mandi nggak pake air anget. Jam berapa pun aku mandi dan seterburu-buru apa pun tetep mandi pake air anget. Walau pun udah diceramahi sama banyak orang tentang jeleknya mandi pake air anget, tetep aja mandi pake air anget.
2. Aku suka pakai aksesoris di kepala. Entah itu topi, bandana, jepitan, scarf. Apa aja yang nempel di kepala, aku suka.
3. Lebih suka baju yang loose daripada yang ketat. Meskipun nggak jarang dibilang tenggelam dalam baju, tapi bodo amat. Nyaman nomor satu.
4. Punya banyak sepatu tapi lupa punya sepatu apa aja.
5. Buah favorit: BANANA! Semua yang pake rasa pisang, pasti aku suka. Eskrim pisang, cake pisang, jus pisang, kripik pisang, susu pisang, semuanya!
6. Tergila-gila sama motif garis gemaris. Tapi cuma yang warnanya hitam putih, biru putih atau merah putih.
7. Suka banget gambar, tapi keindahan gambarnya ga lumrah. Beda standar lah sama gambar-gambar orang kebanyakan (ngeles.com). Tapi dulu waktu SD suka juara gambar dan beberapa kali ikut pameran di Jogja. Eyangku adalah penggemar hasil gambarku. hehehe.
8. Nggak pernah punya rambut panjang. Paling panjang waktu SMA, itu juga sebahu lebih dikit.
9. Not into sport at all period
10. Dua tokoh paling suka di Harry Potter: Remus Lupin dan Bellatrix Lastrange
11. Semenjak punya anak jadi jarang banget bisa nyelesein baca 1 buku. Belakangan ini suka sama tulisan John Green. Buku favorit masih Little Prince dari Antoine de Saint Exupery
12. Tidak pernah bosan mendengarkan Mocca dan The Cardigans
13. I wish i have a little tattoo
14. Nggak bisa keluar rumah tanpa lotion. Nggak bedakan nggak apa-apa asal pakai lotion. Kalau ga pake rasanya kaya belum mandi.
15. Nggak punya warna favorit. Pada dasarnya aku suka semua warna. Mungkin yang agak favorit adalah abu-abu, mungkin.
16. Rhum raisin ice cream? SURE!
17. Suka makan sambel dari kelas 2 SD, sampai sekarang. Termasuk di dalamnya sambel dabu-dabu, sambel terasi, sambel tomat, sambel bawang, sambel jamblang, sambel pete dan kawan-kawan.
18. Tiga obat yang harus ada di pouch tas: Seretide (obat asma), Koyo, Fresh Care
19. Paling geli sama tikus dan belatung. Ampun lah!
20. Percampuran antara Capricorn dan Aquarius. Tapi sepertinya perangaiku lebih mengarah ke Capricorn si keras kepala.
Thursday, September 18, 2014
Kenapa Kamu Begitu Membenci Jakarta?
Ini pertanyaan yang aku ajukan beberapa tahun yang lalu pada diriku sendiri.
Sampai akhirnya aku menantang pertanyaan ini dengan sebuah pernyataan: mari kita coba!
Lalu aku memutuskan untuk bekerja di ibukota, memboyong keluarga kecilku yang sudah sangat nyaman bersarang di kota budaya. Kebetulan memang ada tawaran yang cukup menjanjikan untuk masa depan yang lebih gemilang, di sana.
Harus aku akui, sedikit banyak aku mengagumi etos hidup orang-orang yang sudah lama tinggal di Jakarta.
Renungan-renungan kecil sering aku lakukan, terutama ketika aku terjebak kemacetan di jalan.
Bayangkan, aku pernah pulang dari kantor jam 6 sampai rumah jam 10 malam. Empat jam di jalan!
Belum lagi di kota ini, hujan sebentar saja bisa berujung banjir berhari-hari. Hujan 5 menit bisa berarti macet 5 jam. Satu dua hal ini hanyalah salah satu contoh dari banyak contoh tantangan yang dihadapi sehari-hari oleh orang yang tinggal di Jakarta.
Dari dulu, banyak komentar-komentar nylekit tentang kota yang kekejamannya dibilang lebih kejam dari ibu tiri ini. Semua bernada nyinyir, tentu saja.
Dari mulai kerja di Jakarta itu sia-sia, karena waktumu hanya dihabiskan di jalan semata.
Lalu umpatan harian tentang kemacetan, dilanjutkan makian terhadap cara masyarakat kelas menengah di Jakarta menghabiskan uangnya. Dan masih banyak lagi kecacatan Jakarta yang dijabarkan hampir setiap hari, di mana-mana, oleh orang-orang yang berdatangan ke kota ini untuk mencari rejeki.
Maksudku, siapa sih yang memaksa kita untuk datang ke kota ini? Apakah si Jakarta itu sendiri?
Kalau alasannya karena semuanya ada di Jakarta, kenapa tak putar otak di kota kita sendiri.
Aku tahu diri. Tahu diri kalau aku hanya menumpang di kota ini.
Aku membayangkan, ketika ada yang menumpang di kota asalku, lalu mereka mencaci kotaku padahal disanalah mereka mencari uang, aku pasti sangat marah dan menyuruh mereka pulang!
Kenapa kamu tidak?
Kenapa kamu asyik berkata bahwa kota ini sampah seolah lupa kota sampah ini adalah tempat kamu mencari nafkah?
Jujur saja, lama-lama aku jatuh cinta pada Jakarta. Lama-lama penyataan-pernyataan sinis itu mengganggu juga.
Sampai akhirnya aku menantang pertanyaan ini dengan sebuah pernyataan: mari kita coba!
Lalu aku memutuskan untuk bekerja di ibukota, memboyong keluarga kecilku yang sudah sangat nyaman bersarang di kota budaya. Kebetulan memang ada tawaran yang cukup menjanjikan untuk masa depan yang lebih gemilang, di sana.
Harus aku akui, sedikit banyak aku mengagumi etos hidup orang-orang yang sudah lama tinggal di Jakarta.
Renungan-renungan kecil sering aku lakukan, terutama ketika aku terjebak kemacetan di jalan.
Bayangkan, aku pernah pulang dari kantor jam 6 sampai rumah jam 10 malam. Empat jam di jalan!
Belum lagi di kota ini, hujan sebentar saja bisa berujung banjir berhari-hari. Hujan 5 menit bisa berarti macet 5 jam. Satu dua hal ini hanyalah salah satu contoh dari banyak contoh tantangan yang dihadapi sehari-hari oleh orang yang tinggal di Jakarta.
Dari dulu, banyak komentar-komentar nylekit tentang kota yang kekejamannya dibilang lebih kejam dari ibu tiri ini. Semua bernada nyinyir, tentu saja.
Dari mulai kerja di Jakarta itu sia-sia, karena waktumu hanya dihabiskan di jalan semata.
Lalu umpatan harian tentang kemacetan, dilanjutkan makian terhadap cara masyarakat kelas menengah di Jakarta menghabiskan uangnya. Dan masih banyak lagi kecacatan Jakarta yang dijabarkan hampir setiap hari, di mana-mana, oleh orang-orang yang berdatangan ke kota ini untuk mencari rejeki.
Maksudku, siapa sih yang memaksa kita untuk datang ke kota ini? Apakah si Jakarta itu sendiri?
Kalau alasannya karena semuanya ada di Jakarta, kenapa tak putar otak di kota kita sendiri.
Aku tahu diri. Tahu diri kalau aku hanya menumpang di kota ini.
Aku membayangkan, ketika ada yang menumpang di kota asalku, lalu mereka mencaci kotaku padahal disanalah mereka mencari uang, aku pasti sangat marah dan menyuruh mereka pulang!
Kenapa kamu tidak?
Kenapa kamu asyik berkata bahwa kota ini sampah seolah lupa kota sampah ini adalah tempat kamu mencari nafkah?
Jujur saja, lama-lama aku jatuh cinta pada Jakarta. Lama-lama penyataan-pernyataan sinis itu mengganggu juga.
Lagu Rasa Racun
Belakangan ini aku sering mendengarkan lagu, bukan karena nadanya tapi karena liriknya. Liriknya yang menyakitkan.
Staying in my play pretend
Where the fun ain't got no end
Can't go home alone again
Need someone to numb the pain
You're gone and i got to stay high, all the time
To climb, too high
To keep you off my mind
Tove Lo - Stay High ft Hippie Sabotage
Kemudian memori menguar di udara.
Lantunan lagu selalu menyeret kenangan masa lalu.
Sedikit banyak aku pernah mengalami hal yang sama.
Subscribe to:
Posts (Atom)