Friday, July 26, 2013

Salutasi Sore

Wulan, seharusnya silakan atau silahkan?
Wulan, seharusnya Si Kecil atau si Kecil?
Wulan, seharusnya makeup atau make up?

Serta masih banyak Wulan seharusnya-Wulan seharusnya lain yang aku yakin pasti yang nanya udah tahu apa jawabannya.

Kalau yang ditanya dengan paniknya nanya " Hah! Salah ya? " 
nanti yang nanya jawab dengan tenangnya " Engga, cuma mau memastikan aja kok."

Keahlian kaya gini sebenernya sederhana ya, tapi nyatanya nggak semua orang nyadar kalau ini tuh penting.
Selain itu, nggak semua orang juga punya keahlian macem ini.

Macem apa?
Ya macem itu tadi, kelihaian kita mengingatkan kesalahan seseorang dengan cara sangat halus jadi tidak akan menyinggung perasaan orang lain, yang ada malah bikin orang yang diingetin jadi selalu nginget-nginget kesalahannya supaya besok nggak salah lagi.

Makin ke sini aku jadi makin sadar kalau hal kecil bisa berarti banyak untuk orang lain.
Makin ke sini aku jadi makin sadar kalau orang yang dulu duduk di sebelahku dan nggak jarang nanya "Wulan seharusnya.." mengajarkan banyak hal sederhana yang kaya manfaatnya.
Makin ke sini aku jadi makin sadar kalau aku masuk dalam jajaran orang-orang yang beruntung karena mengenalnya (hazeg!).

Hari ini orangnya ulang tahun, hehe. Selamat ulang tahun deh ya!

Wednesday, July 24, 2013

Demi Apa?

Supaya pinter sama supaya dibilang pinter tu bedanya kaya langit dan bumi yah, walaupun secara kasat mata pembedanya cuma kata "dibilang".

Satu hal yang gatel banget pengen aku beberin tu prosesnya. Iyo, prosesnya. Proses menuju pinter sama proses biar dibilang pinter. Proses-proses ini loh yang bikin gemes mengarah ke emosi.

Kaya gini nih misalnya:

Ada orang baca buku karena emang dia suka. Baca karena dia menemukan sensasi istimewa waktu plastik dibuka dan aroma tiap-tiap halaman buku menguar di udara. Baca karena nggak tau mau ngapain lagi kalau nggak ada kerjaan kecuali ya baca buku karena udah jadi kebiasaan. Baca karena kalau nggak baca bisa nggak bisa (hayah!) garap soal ujian. Baca karena haus pengetahuan baru. Baca karena nggak bisa tidur kalau belum melakukan ritual baca sesuatu. Baca karena kalau nggak terus-terusan baca jadi gampang lupa. Baca karena dibayar harus baca. *dst.

Ada juga orang yang baca cuma karena

Eh, mana ada ya baca kok cuma. Apapun alasannya kalau ujung-ujungnya bisa bikin seseorang baca kan bagus ya?

Kok aku begitu banget ya tadi mikirnya. Ckckck...
Maaf ya rekan-rekan sejawat.

*postingannya mau dihapus tapi kok sayang. hehe*

Tuesday, July 16, 2013

Malu

Banyak hal yang bikin orang merasa malu.
Malu bisa jadi salah satu indikator kewarasan seseorang dan penerimaan kewajaran kewajaran lingkungan sosial terhadap suatu hal.

Masalahnya ngukur kadar malu tuh susah-susah-gampang.
Kalau levelnya ketinggian bikin kita nggak berkembang.
Kalau porsinya terlalu sedikit bikin kita ngga bisa kemana-mana (karena nggak ada yang mau nerima).

Pada akhirnya, semuanya harus pas sengepas ngepasnya.

"Jangan malu-maluin" bisa jadi sebuah kalimat yang begitu mengancam.
Mengancam rasa percaya diri dan harga diri.

Nah lo!

Sunday, July 14, 2013

Kece? Apa Itu Kece?

Begitulah kira-kira cara ngeles manusia yang ga kece di tengah lalu lalang manusia-manusia kece.

Pola pikirnya jadi sok-sok resisten sama definisi kece yang sebenernya sangat subjektif.

Itu baru tahapan pertama. Nanti di lapisan kedua akan ada gumaman "yang penting tu dalemnya, bukan tampak luarnya" di kepala.

Kata "dalem" di sini bisa merujuk pada tingkat intelegensia, ketulusan hati, isi dompet, ukuran cup penyangga dada dan variabel-variabel lain yang sangat fleksibel.

Pada dasarnya ketika tidak ada pilihan lain, termarjinalkan karena apa yang disebut kece itu tadi, manusia tak kece pasti akan menemukan seribu satu pembenaran yang sifatnya normatif.

Hehe, ketauan banget nih nulisnya sembari digelayuti perasaan tak pede ditengah lautan kaum kece.

Friday, July 12, 2013

Nggak Enak? Kasih Kucing!

Lah, kesian amat kucing dapetnya selalu bagian yang enggak enak.
Jangan begitu-begitu amat ah jadi orang, apa-apa mau enaknya doang.
Jangan manja tapi juga jangan semena-mena.
Jangan sesukanya tapi juga jangan mau-mau aja disuruh begini-begitu kesini-kesitu.

Emang paling gampang sih yah menasehati sambil ongkang-ongkang kaki.

Yagitudeh.

Pseudo Friend(s)

Bahasa jawanya konco palsu!
Iya, yang model begitu cukup banyak  di sini (kalau nggak mau denger aku ngomong buanyak buanget).
Iya, di sini. Di sekeliling kita, bahkan di depan muka kita.
Pilihannya ada tiga.
Pertama, acuh tak acuh (macem pelajaran PPKn).
Kedua, ikutan pasang fake smile dan panggil haney-babey meski nama tengah doi siapa aja kita lupa.
Ketiga, semprot langsung kelakuannya!

Tuesday, July 2, 2013

Coba Jawab Ini

Kenapa "kamu lagi apa" bisa begitu sangat tendensius?
Kenapa ada orang-orang yang merasa terancam ketika mendengar pertanyaan itu ditujukan kepadanya?

Belum waktunya kamu jatuh cinta.
Sudah bukan waktunya lagi kamu jatuh cinta.
Lalu kapan sebenarnya masa yang tepat untuk jatuh cinta?