Wednesday, December 10, 2014

What and Why? You Tell Me.

Beberapa waktu lalu, tepatnya sehari setelah aku nulis tentang betapa malasnya aku sebagai penulis untuk menulis, blog-ku direbut begitu saja dariku lalu dienyahkan dari muka bumi *Dyah Drama Wulandari*

Nggak terima dong karena halaman blog-ku yang sebenernya isinya nggak seberapa ini dibuang sama orang tak dikenal... Akhirnya aku menghubungi seorang teman yang sangat baik (dan kece, oke, jago ini itu, temennya banyak, multitalenta deh pokoknya) lalu meminta bantuannya. Kurang lebih seminggu, blogku sampai dengan selamat kembali ke pelukan. Pelukanku tentu saja.

Setelah wejangan untuk rajin ganti password dari temanku yang baik (dan kece, oke, jago ini itu, temennya banyak, multitalenta deh pokoknya) itu tadi, akhirnya aku nurut aja. Walaupun agak ga rela, karena passwordku sebelumnya punya nilai historik yang luar biasa.

Hari ini aku mulai nulis lagi, karena merasa bahwa sekembalinya blog ini ke tanganku berarti aku masih dipercaya oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk tetap menulis di blog ini.

Jujur aja, aku penasaran kenapa blog aku yang traffic pembacanya mengenaskan minimalis ini jadi keisengan orang. Jadilah aku buka laman blog-ku sendiri.

JREEEEENG....
Header aku berubah kak.
Awal tulisannya Because I Said So, sekarang berubah jadi What and Why.
Somehow, aku merasa tersentil. Kenapa? karena kan aku udah bilang, because i said so. Jadi yang aku tulis di sini adalah karena buah pikiranku yang yaah.... begini ini..
Tapi sekarang diganti jadi What and Why.
Maksudnya gimana nih?? Apakah aku diminta menjelaskan apa dan kenapa di setiap tulisanku? Apakah itu menjadi lebih bijak? Apakah because i said so terlalu arogan?

Hehehe, ini hal nggak penting yang aku penting-pentingin sebenernya. Karena capek bo' kadang mikirin yang penting-penting beneran. Mending begini kan?
Sok menganalisa, kalo mumet ya udah, lupain. Selesai.

Monday, December 1, 2014

Penulis yang Terpaksa Menulis

Aku suka menulis.
Sebelum akhirnya aku menjadi copywriter.  Penulis naskah iklan.
Sejak saat itu aku jadi tidak menikmati proses menulis yang sesungguhnya.
Aku harus berpikir. Berpikir. Berpikir. Menulis. Menyunting. Lalu menulis ulang.
Bukan di saat aku harus bekerja lho ya. Bukan. Maksudku, di saat aku menulis iseng pun, aku tidak bisa lagi seperti dulu. Menikmati proses menulis.
Aku menjadi terlalu takut untuk salah tulis, salah eja, ketakutan kalimatku tak terstruktur, tak berpokok pikiran, tak bermutu dan lain sebagainya. Menyebalkan!

Padahal dulu, aku suka sekali menulis.

Itulah sebabnya sekarang aku memaksa diriku sendiri untuk menulis. Iya, memaksa.

Ironis, justru saat pekerjaan yang kuidam-idamkan sejak dulu, menjadi penulis, tercapai, gairahku untuk menulis dan terus menulis makin surut.
Menulis harus sampai dipaksa-paksa.

Tapi tunggu saja, akan tiba waktunya aku kembali menulis seperti aku kembali cemberut. Kulakukan seringkali tanpa disadari. Dan kunikmati :D