Thursday, June 18, 2015

Kota Rasa Neraka

Ga mau tua di jalan?
Terus maunya tua di mana?
Di pelukan orang-orang terkasih?
Terus yang cari duit siapa?
Minta sama orang tua?
Enggak malu masih minta?
Suka-suka kamu?
Kelar diskusinya.

Ga mau kena macet?
Tapi seorang diri pake mobil pribadi?
Ga mau pake transportasi umum?
Ga nyaman?
Lebih nyaman naik mobil sendirian ga desek-desekan?
Lah berarti situ termasuk salah satu penyumbang kemacetan dong?
Salah pemerintah?
Kelar diskusinya.

Yang bikin kota ini rasa neraka ya kita-kita juga kok.
Kalau udah ga kuat, ya pindah aja. Toh kita bukan pohon.
Kalau emang ga semudah itu hengkang dari kota ini, ya dinikmati, disyukuri. Sukur-sukur bisa bantu nyumbang solusi.

Auk ah.


Wednesday, June 17, 2015

Ngemeng Doang Bisanya

Yoih! Ngemeng doang emang gampang. Itulah esensinya. Sok bijak, padahal kalau disuruh mraktekin sendiri masih kapan-kapan. Lah, gimana.. Wong ya susah.

Ini contohnya, sembilan kengemengdoanganku yang bener-bener susah-susah gampang kalau diri sendiri disuruh menjalani. Etapi, semuanya kuncinya sama: ngomong.

1. Kalau ga sreg, ya mbok diajak ngomong baik-baik.  Jangan malah ngebaikin di depan, ngejadiin bahan omongan di belakang.
2. Kalau sakit hati, ya mbok diajak ngomong dari hati ke hati. Jangan malah makin dimasukin hati ditambah bumbu dengki dan benci.
3. Kalau kecewa, ya mbok diajak ngomong biar plong. Jangan malah matiin rasa sampai blong.
4. Kalau nyakitin, ya mbok diajak ngomong biar sakitnya ga makin parah. Jangan malah masalahnya dibikin makin ga terarah.
5. Kalau malu-maluin, ya mbok diajak ngomong sambil dinasehati. Jangan didiemin nunggu makin jadi.
6. Kalau bikin emosi, ya mbok diajak ngomong yang sabar. Jangan langsung main pukul atau nampar (maksa biar berima :p)
7. Kalau nyusahin, ya mbok diajak ngomong sambil dikasih solusi. Jangan cuma dihina dan dicaci maki.
8. Kalau ngeselin, ya mbok diajak ngomong trus ditanya maunya apa. Jangan dicuekin pura-pura ga ada apa-apa, emang bisa?
9. Kalau eneg, ya mbok diajak ngomong sambil dikeceri (red: diberi perasan) jeruk nipis. Jangan malah ditambahin susu dan fla. Makin eneg yang ada (mulai ngaco).

Ah ya gitulah... Di mana-mana yang judulnya ngemeng doang emang lebih gampang.


Tuesday, June 16, 2015

Kenapa Harus Ada Benci di Antara Kita

Yah, namanya manusia sebenernya wajar kalau ada iri, dengki, sebel dan kesel...
Ada yang sifatnya sementara. Sekarang marah mengeluarkan sumpah serapah, tapi seperempat jam lagi udah cekikikan colek-colekan sama yang tadi dibombardir omelan.
Ada juga yang sifatnya menahun. Kebenciannya disimpan rapi di dalam hati, siap diungkit-ungkit lagi jikalau waktu dan kondisi lagi ga kebeneran.

Ada yang urusan kerjaan, ada yang bab cinta-cintaan, ada juga mungkin yang perkara harta dan tahta.

Paling males kalau ketidaksukaan satu orang terus disebarluaskan. Maksudku, yah... ngapain sih mengumpulkan pasukan kebencian. Kalau kita ga suka sama seseorang, emang perlu banget ya kita ajak-ajak orang lain. Apose, apose.....

Kalau bisa milih, aku emoh banget ngejalanin hidup yang sifatnya hanya sementara ini dengan kenegativan. Tapi, emang ga segampang itu.
Kadang mulut udah memaafkan, tapi eh ternyata hati belum melupakan.

Anw, besok udah puasa... kalau-kalau perilaku atau perkataanku menyakitimu, maafkan yah.. Nih, aku kasih bonus selfie hehehe :p

 

Wednesday, December 10, 2014

What and Why? You Tell Me.

Beberapa waktu lalu, tepatnya sehari setelah aku nulis tentang betapa malasnya aku sebagai penulis untuk menulis, blog-ku direbut begitu saja dariku lalu dienyahkan dari muka bumi *Dyah Drama Wulandari*

Nggak terima dong karena halaman blog-ku yang sebenernya isinya nggak seberapa ini dibuang sama orang tak dikenal... Akhirnya aku menghubungi seorang teman yang sangat baik (dan kece, oke, jago ini itu, temennya banyak, multitalenta deh pokoknya) lalu meminta bantuannya. Kurang lebih seminggu, blogku sampai dengan selamat kembali ke pelukan. Pelukanku tentu saja.

Setelah wejangan untuk rajin ganti password dari temanku yang baik (dan kece, oke, jago ini itu, temennya banyak, multitalenta deh pokoknya) itu tadi, akhirnya aku nurut aja. Walaupun agak ga rela, karena passwordku sebelumnya punya nilai historik yang luar biasa.

Hari ini aku mulai nulis lagi, karena merasa bahwa sekembalinya blog ini ke tanganku berarti aku masih dipercaya oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk tetap menulis di blog ini.

Jujur aja, aku penasaran kenapa blog aku yang traffic pembacanya mengenaskan minimalis ini jadi keisengan orang. Jadilah aku buka laman blog-ku sendiri.

JREEEEENG....
Header aku berubah kak.
Awal tulisannya Because I Said So, sekarang berubah jadi What and Why.
Somehow, aku merasa tersentil. Kenapa? karena kan aku udah bilang, because i said so. Jadi yang aku tulis di sini adalah karena buah pikiranku yang yaah.... begini ini..
Tapi sekarang diganti jadi What and Why.
Maksudnya gimana nih?? Apakah aku diminta menjelaskan apa dan kenapa di setiap tulisanku? Apakah itu menjadi lebih bijak? Apakah because i said so terlalu arogan?

Hehehe, ini hal nggak penting yang aku penting-pentingin sebenernya. Karena capek bo' kadang mikirin yang penting-penting beneran. Mending begini kan?
Sok menganalisa, kalo mumet ya udah, lupain. Selesai.

Monday, December 1, 2014

Penulis yang Terpaksa Menulis

Aku suka menulis.
Sebelum akhirnya aku menjadi copywriter.  Penulis naskah iklan.
Sejak saat itu aku jadi tidak menikmati proses menulis yang sesungguhnya.
Aku harus berpikir. Berpikir. Berpikir. Menulis. Menyunting. Lalu menulis ulang.
Bukan di saat aku harus bekerja lho ya. Bukan. Maksudku, di saat aku menulis iseng pun, aku tidak bisa lagi seperti dulu. Menikmati proses menulis.
Aku menjadi terlalu takut untuk salah tulis, salah eja, ketakutan kalimatku tak terstruktur, tak berpokok pikiran, tak bermutu dan lain sebagainya. Menyebalkan!

Padahal dulu, aku suka sekali menulis.

Itulah sebabnya sekarang aku memaksa diriku sendiri untuk menulis. Iya, memaksa.

Ironis, justru saat pekerjaan yang kuidam-idamkan sejak dulu, menjadi penulis, tercapai, gairahku untuk menulis dan terus menulis makin surut.
Menulis harus sampai dipaksa-paksa.

Tapi tunggu saja, akan tiba waktunya aku kembali menulis seperti aku kembali cemberut. Kulakukan seringkali tanpa disadari. Dan kunikmati :D

Wednesday, October 15, 2014

Kasih Pendapat Seenak Jidat

Dalam satu bulan, akan masuk masanya aku dengan sangat mudah memuntahkan semua hal yang ada di kepala tanpa pikir dua kali dan tanpa usaha mempertimbangkan kembali apa akibatnya nanti.

Dalam satu bulan, akan ada waktunya aku sangat berhati-hati mempertimbangkan setiap pemilihan kata hanya untuk merangkai sebuah kata, semata-mata agar semua yang mengucur dari mulut ini memiliki makna dan tidak menyakitkan hati.

Kali ini, aku sedang memasuki periode seperti yang tersebut pada poin pertama.


Sunday, October 12, 2014

Sarap-an

Dari mulai jaman sekolah aku jarang banget yang namanya sarapan.
Baru belakangan ini aja nyadar kalau ternyata yang melatarbelakangi kesarapanku kala pagi adalah ketidaksarapanku.
Gimana enggak sarap, perjuangan ke kantor (walaupun di angkot cuma tidur) bisa memakan waktu berjam-jam. Sampai kantor dihajar kerjaan yang datang tanpa basa-basi.
Habislah energi ini. Energi positif terutama.
Jadilah sekarang mulai membiasakan diri mengolah oat jadi makanan pagi supaya otak ga sarap lagi.
Menu hari ini:
Oats + low fat milk + banana + peanut butter + cinnamon
Abaikan bentuknya. Paling penting rasanya juara.